Minggu, 16 Februari 2020

SRPB JATIM SEBAGAI RUMAH SINGGAH RELAWAN


         Mencermati komentar Cak nDaru di salah satu grup WhatsApp Arisan Ilmu, sungguh sebuah ajakan yang bijak dari seorang nDaru kepada anggota grup. Ketika itu ada salah seorang anggota grup yang minta ijin keluar grup dengan alasan HP nya lemot tidak support karena kebanyakan mengikuti grup.

Saat itu Cak nDaru bilang dalam komennya yang menggunakan bahasa campuran, “Nanti yen podo metu, opo gak gelo nek onok informasi gae relawan Jatim yang penting, seperti info tentang kegiatan tertentu yang menambah wawasan dan menyenangkan”. Apa yang disampaikan Cak nDaru itu ada benarnya. Karena seringkali pengumuman penting itu sifatnya mendadak dan disampaikan lewat grup Arisan Ilmu. Sehingga yang tidak nyimak akan ketinggalan.

Kenyataannya, banyak pihak yang tiba-tiba muncul minta ikut kegiatan, padahal sebelumnya tidak pernah terdengar, pamer jempol pun tidak pernah. Ya begitulah, Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai gayanya. Seperti gaya suka minta jatah tanpa mau berdarah-darah. Itu tidak salah dan tidak berdosa. Hanya fatsun organisasi yang tidak mengajarkan begitu.

“Ingat lur kita bukan anggota dari SRPB. karena SRPB itu bukan organisasi. organisasi kita bermitra dengan SRPB. SRPB itu gudangnya ilmu, tempat menimba ilmu untuk kita laksanakan berbuat kebajikan untuk peduli terhadap sesama,” Kata anggota senior Papalas, yang sering dipanggil nDaru Bogang.

Apa yang dikatakan Cak nDaru itu benar. Bahwa SRPB itu sekedar wadah berbagai organisasi relawan untuk membangun kepedulian, memudahkan koordinasi, komunikasi untuk membangun sinergi dalam rangka meningkatkan kapasitas relawan dibidang penanggulangan bancana maupun sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, khususnya mereka yang berdiam di daerah rawan bencana.

Jadi salah besar jika ada pihak yang mengatakan bahwa SRPB akan “mengkerdilkan” organisasi lain dan meninggalkannya dalam berkegiatan. Makanya, upaya pendataan dan pembuatan direktori relawan itu sangat penting untuk mengetahui kapasitas relawan yang ada di masing-masing organisasi dan pembinaan yang bagaimana yang akan dilakukan sesuai dengan tingkat pengetahuan, keterapilan dan sikap yang telah dimiliki relawan. sehingga pembinaan yang diagendakan itu akan berhasil guna dan berdaya guna untuk pengembangan diri.

Dian Harmuningsih, yang punya ‘Omah Ngarep Sawah’, pernah bilang bahwa keberadaan SRPB itu bisa dianalogikan dengan puskesmas. Dimana orang datang ke puskesmas itu dipastikan mempunyai kepentingan tertentu. Seperti  minta surat keterangan dokter untuk berbagai keperluan, sekedar konsultasi kesehatan dan kontrol sesuai anjuran dokter, atau mereka yang memang sakit dan ingin sembuh setelah berobat di puskesmas yang bayarnya agak murah.

Ya begitulah, dengan mengambil analogi puskesmas, SRPB dengan program Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) menjadi wadah yang terbuka bagi semua relawan yang berkeinginan berbagi informasi, tukar pengalaman, dan menambah sedulur (memperluas jejaring kemitraan). Setelah merasa terpuaskan kepentingannya, mereka balik kanan. Entah akan datang lagi atau menghilang membawa kenangan. Semua bisa terjadi dan tidak ada yang melarang, dan begitulah kenyataannya. Datang dan pergi silih berganti

Relawan yang terdaftar di buku absensi SRPB banyak sekali, ratusan jumlahnya. Namun tidak semua saling kenal secara mendalam, karena hanya sekali bertemu dalam acara Arisan Ilmu. Itupun hanya saling melempar senyum dan tegur sapa sekenanya. Sehingga wajar jika tidak diketahui mutu loyalitas dan dedikasinya. Itulah konsekwensi dari wadah berkumpulnya berbagai organisasi relawan yang mengedepankan keterbukaan tanpa ikatan.

Apakah kondisi yang demikian ini bisa disebut bahwa SRPB sebagai rumah singgah bagi relawan untuk memuaskan kepentingannya ?. Rosihan (2016) mengatakan bahwa dalam Konferensi Nasional II mengenai Masalah Pekerja Anak di Indonesia pada Juli 1996, mendefinisikan rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak dapat bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut. Apakah pengertian rumah singgah ini sama dengan keberadaan SRPB ?. mari direnungkan bersama sambil nyeruput kopi tipis-tipis.

Mungkin, SRPB sebagai rumah singgah disini lebih pada tempat bertemunya relawan dari berbagai latar belakang untuk saling tukar informasi seperti dalam jargonnya, ‘bersatu bersinergi untuk peduli’ yang pada akhirnya bersama mencoba merancang kegiatan peningkatan kapasitas relawan melalui pembinaan dan memberi kesempatan kepada relawan yang telah siap mengikuti sertifikasi yang diadakan oleh LSP-PB.

Konon, telah tercatat 200 lebih organisasi relawan yang terdokumentasikan di pengurus SRPB. Namun yang selalu kebagian menikmati berbagai kegiatan SRPB hanya beberapa relawan saja yang aktif berkomunikasi dan sering bersemuka di sekretariat. Untuk itulah, seperti yang diharapkan Cak nDaru, agar anggota grup WhatsApp Arisan Ilmu selalu aktif ‘nengok’ grupnya. Paling tidak dengan memamerkan jempolnya sebagai tanda masih hidup. Agar tidak ketinggalan informasi.

Berharap, pasca kongres ke dua nanti, terbentuk kepengurusan baru yang militan. Dengan semangat milenial mampu mengemas menu program yang semakin menampakkan keberadaan SRPB  sebagai rumah singgah relawan se jawa timur sebagai ruang terbuka untuk berdialog dalam rangka membongkar kebuntuan koordinasi, dan kesalahpahaman komunikasi yang selama ini membersamai perjalanan SRPB dalam menjalankan amanah kongres pertama. Selamat berkongres, Pilihlah Pengurus yang Dapat Dipercaya dan Bertanggungjawab. Wallahu a’lam. [eBas/SeninPon-17022020]     




Jumat, 07 Februari 2020

FORUM KOMUNIKASI RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA KABUPATEN KEDIRI


Ternyata di Kabupaten Kediri, BPBD setempat telah memfasilitasi berdirinya forum komunikasi relawan penanggulangan bencana (FKRPB). Sejak tahun 2017, mereka dibina oleh bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dengan berbagai kegiatan. Salah satu program pembinaannya adalah berupa fasilitasi pertemuan FKRPB agar pengurusnya kompak menjalankan amanah forum dengan penuh tanggungjawab.

Kegiatan fasilitasi forum komunikasi relawan di akhir bulan Januari 2020 ini bertempat di ruang kilisuci, di lingkungan kantor pemerintah daerah Kabupaten Kediri, dibuka oleh Plt Kalaksa BPBD setempat. Dalam arahannya beliau bilang bahwa jangan sampai kegiatan seperti ini hanya terhenti sampai disini saja, namun harus ada tindak lanjutnya dalam bentuk program peningkatan kapasitas relawan.

Seperti halnya SRPB JATIM, FKRPB ini juga merupakan wadah berkumpulnya berbagai organisasi relawan untuk saling bersilaturahim, berkoordinasi dan membangun sinergi untuk meningkatkan kapasitas relawan. Hal ini penting. Mengingat Kabupaten Kediri yang luas itu juga memiliki kompleksitas ancaman bencana. Dengan demikian, ketika relawan dan masyarakat berdaya dalam hal mitigasi bencana, maka akan banyak membantu BPBD dalam upaya penanggulangan bencana secara cepat dan tepat. Sehingga bisa meminimalisir dampak bencana.

Seperti diketahui jika terjadi bencana maka yang menjadi korban pertama adalah masyarakat setempat. Mereka pun juga berperan menjadi penolong yang pertama, sebelum pertolongan dari luar berdatangan. Untuk itulah keberadaan forum diharapkan bisa dilibatkan dalam upaya edukasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, seperti yang tersirat dalam Perka BNPB nomor 17 tahun 2011. Khususnya melakukan sosialisasi (bahkan jika perlu mengadakan pendampingan) kepada masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana, seperti yang diharapkan oleh program keluarga Tangguh bencana yang baru diluncurkan.

Dengan demikian, relawan itu harus bisa memberdayakan korban bencana agar tidak ‘tenggelam dalam kesedihan’ di pengungsian. Misalnya diajak membantu di dapur umum, terlibat dalam kegiatan psikososial, pembersihan lingkungan pasca bencana, pembangunan huntara maupun huntap, dan kegiatan lain yang melibatkan masyarakat terdampak untuk mempercepat pemulihan (menumbuhkan daya lenting).

Tentu, untuk membangun sebuah forum komunikasi relawan itu tidaklah mudah. Banyak sekali rintangan dari kalangan relawan sendiri yang tidak senang dengan kehadiran forum yang dianggap membahayakan eksistensinya. Untuk itu pengurus forum harus mampu dengan sabar meyakinkan bahwa pendirian forum tidak seperti yang dibayangkannya.

Kini saatnya pengurus membuktikan dengan menyusun program peningkatan kapasitas bagi relawan, kemudian dikonsultasikan ke BPBD agar difasilitasi. Seperti diketahui bahwa seseorang mau menjadi relawan itu disamping karena panggilan jiwa untuk menolong sesamanya, juga dalam rangka mengaktualisasikan dirinya, belajar berjejaring dengan sesama relawan di berbagai daerah untuk meningkatkan kapasitas sebagai relawan penanggulangan bencana. Tentunya tetap memperhatikan kepentingan keluarga dan masyarakat dimana dia tinggal, agar tetap bahagia. [eBas/Jum’at Pon-07022020]




 

Sabtu, 01 Februari 2020

RELAWAN DAN CANGKRUKAN (SEBUAH OBROLAN IMAJINER)


Setiap relawan berkumpul dengan komunitasnya atau lintas komunitas. Pasti akan ada diskusi seru tentang apa saja tanpa ada moderatornya. Ya, diskusi disini lebih tepatnya adalah ngobrol bareng sembil ngopi. Sementara, diskusi adalah bahasa kerennya saja, biar relawan itu dianggap keren.

Begitulah, sambil nyakot rondo royal, sebutan untuk tape goreng, Mukidi, Seorang peserta cangkruk’an mengatakan bahwa saat ini paradigma penanggulangan bencana telah berubah. Dari responsif menjadi preventif atau pengurangan risiko bencana. Maka dari itu relawan harus selalu terlibat dari mulai fase pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Jadi relawan tidak boleh hanya ikut menangani satu fase saja dalam penanggulangan bencana.

“disamping itu dalam melakukan pertolongan kepada korban harus didasari rasa ikhlas dan tanpa pamrih. Jadi, kalau ada relawan yang bekerjanya berdasar pamrih tertentu dan menerima upah itu sudah bukan relawan.” Katanya bersemangat membuka diskusi malam. Sementaraa peserta cangkruk’an yang lain kurang memperhatikan karena sibuk melihat berita TV tentang wabah corona yang sudah masuk Kota Semarang.

“Kalau bukan relawan, terus disebut apa dong, kan sama-sama menolongnya?,” Kata Kaspo sedikit bingung.

“Coba Cak Muk, sampiyan buka Perka BNPB nomor 17 tahun 2011. Disana jelas disebutkan apa itu relawan penanggulangan bencana, termasuk hak dan kewajibannya. Juga peran-peran yang bisa dikerjakan relawan dalam setiap fasenya. Mungkin kita beda mentafsirkan saja Cak Muk, Benar relawan itu harus ikhlas dan tanpa pamrih. Tapi sampiyan harus tahu juga bahwa relawan itu juga makhluk sosial yang harus memenuhi kewajibannya, baik kepada keluarganya, maupun kepada masyarakatnya” Kata Kang Dalbo mencoba 'memblokir' pernyataan Mukidi.

Artinya, masih kata Dalbo, sampiyan harus tahu kapan berkegiatan sebagai relawan, dan kapan rehat sejenak untuk ngurusi hidup dan kehidupan pribadinya. Jangan sampai terlena dalam kegiatan kerelawanan saja, namun harus ingat juga akan masa depan dan usia yang semakin menua.

Sambil nyruput kopi, Kang Dalbo juga menjelaskan kepada Kaspo, bahwa yang namanya relawan itu adalah mereka yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi dan mau berbuat sesuatu untuk menolong sesamanya. Masalah dibayar, menerima upah dan gratisan itu tidak usah dibicarakan disini. Pasti tidak akan ketemu. Jadi biarkan saja. rasakan dengan nuranimu, apakah kamu sudah layak disebut relawan atau belum.

Sementara Kaspo, sambil nyruput Es Josua, mencontohkan konsep pentahelix yang sampai sekarang masih sebatas pada diskusi dan rapat-rapat terbatas untuk  mematangkan konsep serta meningkatkan pertukaran informasi terkait dengan masalah bencana. sementara keterlibatan masyarakat (relawan) dalam konsep pentahelix itu belum tampak mesra.  

Dalam benaknya Kaspo, Pentahelix itu upaya kerja sama untuk mewujudkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah regulator), akedemisi (konseptor inovator), dunia usaha (pendorong), media massa (komunikator) dan masyarakat (akselerator), dalam rangka  mengakselerasi upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana. Dari kegiatan itu diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat akan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Oalah Cak Kaspo iki ngomong apa to kok kemelipen banget. Kuwi dudu urusane relawan. wis ono bagiane dewe-dewe. Sudahlah, begini saja, relawan itu bekerjanya berbasis kemauan dan kemampuan. Sementara pentahelix itu bukan urusan relawan. pasti suatu saat relawan akan dikasih tau apa itu tugas dan fungsi pentahelix serta akan diajak ikutan rapat dan diskusi dengan mereka. Percayalah.” Kata Kang Dalbo sambil terkekeh mendengar penjelasan Kaspo tentang pentahelix.

“Kok diketawain to, emangnya saya salah membuat diskripsi tentang keterlibatan relawan yang belum terasakan dalam konsep pentahelix.” Kata Kaspo dengan wajah melas.

“Benar salahnya saya tidak tahu, wong aku iki mung relawan amatiran yang ikut arus saja, bukan relawan professional yang paham tentang siklus penanggulangan bencana, seperti siaga darurat, tanggap darurat, bantuan darurat, masa transisi, pemulihan, rehab rekon, pencegahan, mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan. Karena, senyatanyalah sampai saat ini menurut ceritanya, antara teori dan praktek di lapangan masih sangat jauh berbeda, bahkan sering tumpang tindih sesuai pemahaman dan kepentingan.” Kata Kang Dalbo sambil memesan mie goreng dobel.

"Rasanya, apa yang dikatakan Kang Dalbo ada benarnya. Relawan itu lebih sering sibuk saat tanggap darurat. sementara untuk kegiatan penyusunan renkon, nyusun RPB, Jitupasna, dan yang berhubungan dengan penyusunan konsep penanggulangan bencana, kurang terlibat (dilibatkan), Mungkin dianggap bukan maqomnya." Kata Mukidi sok paham.

Tanpa kesimpulan, obrolan pun berlanjut ke rencana berangkat berjamaah ke Sentul International Convention Center, Bogor naik bus eksekutif, hari senin (3/2). Ya, relawan yang tergabung dalam SRPB JATIM kiranya patut berterimakasih kepada Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur yang berkenan memfasilitasi 100 relawan dari perwakilan organisasi yang terdaftar di dalam direktori yang disusun Ning Ocha dan kawan-kawan, untuk ikut meramaikan kegiatan rakornas BNPB yang mengambil tagar “Penanggulangan Bencana Urusan Bersama”.

“Jangan lupa membawa baju seragam, sepatu, payung, jaket, obat pribadi, klethikan, uang saku yang banyak untuk beli souvenir khas rakornas BNPB, charger HP, thumbler, dan lainnya sesuai peruntukannya,” Kata Mukidi diakhir cangkruk’an. Kali ini Mukidi yang kebagian 'ngebosi' teman-temannya.

Begitulah obrolan tanpa kesimpulan selalu mewarnai Cangkruk’an relawan yang durasi waktunya tidak ditentukan. Lamat-lamat suara koko ayam bersahutan, tanda waktu solat subuh kan menjelang. Asholatu khoirum minan naum. [eb/minggu pon-02022020]
   



Sabtu, 25 Januari 2020

KONGRES SRPB JATIM MEMILIH PENGURUS BARU


Beberapa minggu kedepan, SRPB JATIM akan menggelar kongres ke dua. Entah tempatnya dimana dan tanggal berapa, kongres harus tetap berjalan sesuai dengan amanat kongres pertama tahun 2017.  Bahkan, jika terpaksa, sambil kemping di alam terbuka dengan penyelenggaraan seadanya pun, tidak apa-apa. Yang penting segera ada pergantian pengurus. Ada penyegaran pengurus pasca kongres ke dua.

Semua itu harus dilakukan oleh pengurus lama sebagai penanda bahwa, sebagai organisasi, SRPB JATIM itu dinamis dengan segala programnya. Termasuk upaya menyiapkan kader yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi sehingga layak dijadikan pengurus yang dapat melaksanakan program-program yang telah disepakati dalam kongres.

Konon, organisasi yang baik itu adalah organisasi yang terus mengalir. Seiring berjalannya sang waktu, ada generasi yang pergi dan ada generasi yang datang. Ingat, Aristoteles dalam bukunya yang berjudul La Politic, mengatakan bahwa setiap imperium yang tidak mampu memberikan pendidikan bagi generasi berikutnya maka tunggu saja waktunya imperium itu akan mengalami masa kehancuran. Disinilah pentingnya SRPB JATIM menyiapkan kadernya dalam rangka regenerasi organisasi, yaitu proses pergantian dari generasi lama ke generasi baru, termasuk adanya pembaruan semangat sesuai kehendak jaman.

 Ya, banyak orang bilang bahwa kader hendaknya memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi.  Untuk itulah beberapa hal yang perlu diketahui oleh kader, diantaranya sejarah kelahiran SRPB JATIM, struktur, visi misi dan bidang kerjanya, alur koordinasi dengan pihak terkait, relasi eksternal, dan pengembangan jejaring kemitraan.

 Melalui kongres itulah, akan tampak kader-kader milenial yang layak meneruskan estafet kepemimpinan untuk menggerakkan roda organisasi berjalan sesuai khittahnya. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis.

Secara sederhana, Kader artinya, orang dilatih dan dipersiapkan sebagai pengganti dalam kepengurusan. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” (Syaiful,2017). Sementara menurut kamus besar bahasa Indonesia, kader adalah orang yang dipercaya mampu melanjutkan dan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam suatu organisasi.

Ya, kedepan SRPB JATIM harus memiliki koordinator yang minimal seperti sosok saat ini, Dian Harmuningsih. Dimana, sebagai koordinator, emaknya Falain bisa menyelami perasaan dan pikiran anggotanya serta memberi inspirasi dan memberi motivasi untuk selalu belajar agar mampu berkreasi secara maksimal dalam rangka menghidupi SRPB JATIM.

Pertanyaannya kemudian, siapakah dia ?. apakah sudah ada yang siap dimunculkan saat kongres nanti?. atau, masing-masing telah memiliki jago yang siap diadu di arena kongres nanti ?. semoga melalui kongres ke dua, yang bertepatan dengan tahun bershio tikus ini, akan muncul sosok pengurus yang semakin bisa memainkan perannya sekaligus bisa mengantisipasi perubahan yang dibawa oleh semangat revolusi industry 4.0. Wallahu A’lam. [eBas/sabtu kliwon-25012020]



.

Kamis, 23 Januari 2020

MASALAH SAMPAH MASALAH KESADARAN


“Nggak main-main, Sudah ngawur. Inilah yang harus dijelaskan kepada masyarakat. Ayo, jaga ini sungai kita.” Kata Heru Tjahjono, Sekda Provinsi Jatim (Jawa Pos, 21/1), saat melihat kegiatan kerja bakti bersih-bersih sungai Buntung, Waru, Sidoarjo. Sungguh, tumpukan sampah yang begitu banyak itu tanda kurang adanya kesadaran dalam menjaga kebersihan sungai.

Segala jenis sampah dibuang di sungai Buntung. Ada spring bed, kasur kapuk, ban bekas, kursi, kayu gelondongan, sepatu, baju, pembalut, dan sampah domestik yang dibungkus tas kresek aneka warna. Belum lagi buangan material bangunan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Hal ini menyebabkan percepatan pendangkalan. Konon kedalaman sungai yang semula sekitar 3 meter, kini tinggal 50 centi meter. Sehingga wajar jika hujan deras beberapa jam saja, air langsung meluap menggenangi jalan dan pemukiman. Siapa yang salah ?.

Biasanya, jika terjadi banjir, warga terdampak langsung teriak menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak peduli terhadap wilayahnya, dianggap abai terhadap pembangunan yang bisa mengurangi banjir, dan sumpah serapah lainnya. Sementara mereka tetap membuang sampah sembarangan. Mereka tidak sadar bahwa sungai bukan tempat sampah. Mungkin mereka juga belum tahu sungai dan "penghuninya" sangat bermanfaat menjaga keberlangsungan ekosistem yang ada dan menguntungkan kehidupan manusia sesuai konsep simbiosa mutualisma.

Masalah rendahnya kesadaran akan kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, tampaknya berkaitan dengan enggannya warga membayar iurang ke tukang angkut sampah dan memilih membuang sampah di sungai karena dianggap praktis. Untuk itulah relawan (termasuk kader pemerintah setempat), didampingi tokoh dan perangkat desa/kelurahan setempat melakukan upaya-upaya penyadaran melalui penyuluhan untuk menumbuhkan rasa peduli sungai bersih yang bebas sampah.

Termasuk menggunakan dana desa untuk upaya pencegahan dan kesiapsiagaan dalam rangka pengurangan risiko bencana. bentuknya terserah sesuai kesepakatan warga. Misalnya membangun tanggul, normalisasi bantaran sungai mengadakan penghijauan, membangun tempat pegungsian yang representatif untuk ‘mengamankan’ seluruh warga serta mengadakan pelatihan kebencanaan bagi warga.

Sesungguhnyalah, masalah sampah yang memang sering merepotkan. Dimana, saat musim kemarau sampah yang dibuang sembarangan menjadikan pemandangan yang tidak sehat, apalagi baunya yang cukup menyengat, bahkan jika teledor, dapat menimbulkan kebakaran yang menyesakkan pernafasan, tidak jarang akibat membakar sampah sembarangan menyebabkan musnahnya harta benda, bahkan kematian. Kemudian jika musim penghujan, seringkali menimbulkan genangan yang dapat menjadi sumber penyakit (diantaranya diare, gatal-gatal, dan demam berdarah serta tidak jarang menimbulkan banjir yang merugikan. Belum lagi masalah sampah plastik. 

Salah satu cara tradisional yang praktis memusnahkan sampah adalah dengan dibakar (dengan catatan harus ditunggui agar tidak kemana-mana dan terbakar dengan sempurna, tidak tersisa). Namun konon, membakar sampah itu dilarang, karena sudah ada undang-undangnya. Lha, terus apakah harus ditimbun ?. bisa-bisa malah akan mengganggu kesuburan tanah.

Beberapa komunitas ada yang menaruh kepedulian terhadap upaya mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sementara sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang harus diapakan ?. Mungkin itulah salah satu pekerjaan rumah para relawan yang perlu dicarikan solusi.

Sesungguhnyalah di Sidoarjo ada forest, forum relawan sidoarjo tangguh, yang bisa diajak bekerjasama oleh BPBD Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan aksi. Baik itu berupa kerja bakti membersihkan sampah, melakukan evakuasi terhadap bencana puting beliung, banjir, dan kebakaran. Maupun dilibatkan dalam upaya sosialisasi mitigasi dan pengurangan risiko bencana yang menjadi agenda rutin BPBD, termasuk melibatkan banyak pihak dan warga setempat untuk bersama melakukan kerja bakti membersihkan sungai seperti yang dilakukan secara masal pada hari senin, tanggal 20 Januari 2020, sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan potensi bencana yang ada di daerahnya yang disebabkan karena sampah. Namun perlu disadari bahwa upaya penyadaran masyarakat itu tidak gampang, perlu waktu panjang. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/kamis pon-23102020]
   








Senin, 20 Januari 2020

RESOLUSI SRPB JATIM UNTUK TIGA TAHUN KE DEPAN


         Konon, kata berita burung, kongres SRPB JATIM yang ke dua itu dipercepat pelaksanaannya. Karena sesuatu hal, maka yang seharusnya kongres diselenggarakan bulan april, digeser ke akhir bulan februari (kemungkinan juga bisa bergeser ke awal bulan maret). Dalam kongres ke dua nanti agenda besarnya adalah pergantian pengurus dan penyempurnaan statuta (AD/ART) Organisasi.

Sudah selayaknya SRPB JATIM sebagai wadah organisasi relawan yang dinamis, melakukan suksesi kepengurusan sebagai tanda berjalannya proses kaderisasi. Sayangnya sampai saat ini kasak kusuk kemunculan calon pengganti koordinator SRPB JATIM belum ada. Mengapa begitu ?.

Perlu disadari oleh semua, termasuk oleh para calon pengganti petahana, bahwa SRPB JATIM adalah organisasi nirlaba. Sehingga dalam menjalankan semua kegiatan harus didanai sendiri, tidak menunggu datangnya subsidi. Menurut andiblogku (2010), organisasi nirlaba itu adalah suatu organisasi mandiri yang menekankan pada kerja pelayanan sosial dengan tidak bermaksud untuk menarik keuntungan yang bernilai bisnis dari usaha yang dilakukan, dan bersifat mandiri dalam segi pembiayaan dan pengelolaannya.

Artinya, ke depan pengurus SRPB JATIM yang terpilih (mau dipilih dan mau kerja sebagai pengurus) harus siap-siap berkorban. Baik korban waktu, tenaga, dana, dan mungkin juga harus korban perasaan dalam menjalankan roda organisasi. Ini yang sulit, dan tidak semua orang bisa menjalaninya.

Apalagi di dalam menjalankan organisasi nirlaba itu, walaupun tidak tertulis, ada prasyarat yang harus dimiliki oleh pengurus. Seperti Kober, yaitu pengurus harus punya waktu untuk menjalankan program organisasi dan memotivasi anggota untuk aktif mengikuti aturan main yang telah ditetapkan.

Bener, pengurus harus benar dalam mengelola organisasi dengan mengedepankan transparansi dan penuh tanggungjawab menjalankan amanah. Leader, yaitu pengurus mampu memimpin, bisa memotivasi, menginspirasi dan menguatkan anggota agar tetap bersemangat memajukan organisasi melalui programnya.

Banter, maksudnya adalah pengurus organisasi harus cepat dalam berkreasi, berinovasi sesuai dengan situasi dan kondisi serta aktif membangun jejaring kemitraan. Sehingga keberadaannya akan menjadi tolehan khalayak ramai. Akan lebih baik lagi jika pengurusnya juga pinter. Khususnya pinter membuat konsep, pinter menyusun proposal, pinter negosiasi, pinter mencari, membuat dan menangkap kesempatan.

Paling tidak, pengurus itu minimal harus kober dan bener. Sementara yang lainnya bisa dibenahi bersama-sama sambil berjalan, tentu diperlukan komitmen yang tinggi. Apalagi SRPB JATIM itu sebuah wadah berbagai organisasi relawan.

Diharapkan pengurusnya nanti harus beragam terdiri dari wakil-wakil organisasi yang dipilih  secara demokratis dan memiliki komitmen melestarikan keberadaan SRPB JATIM, serta mau dan mampu menjalankan program secara kolektif kolegial, agar semakin berwarna sesuai visi misi masing-masing oraganisasi. Pertanyaannya kemudian, bisakah pengurus SRPB JATIM pasca kongres ke dua nanti membuat resolusi tiga tahun ke dua ?.  

Sukur-sukur dalam resolusi nanti pengurusnya memiliki semangat untuk menjalankan SRPB JATIM pada dua jalur. Pada jalur pertama ia melakukan pekerjaan sosial. Sedangkan lainnya, mampu melakukan kegiatan komersial, dimana keuantungan yang diperoleh digunakan untuk membiayai kegiatan sosialnya. Sungguh resolusi ini tidak mudah.

Disamping itu, ke depan, diharapkan pengurusnya diambilkan dari unsur organisasi mitra yang berada di seputaran Surabaya, agar mudah berinteraksi dalam sebuah rapat rutin untuk menjalankan program SRPB JATIM yang lebih maju dan bermanfaat bagi relawan maupun masyarakat.

Jika calon baru pengganti petahana belum ada, maka mau tidak mau pengurus lama harus legowo untuk berbenah mengemban amanah meneruskan langkah, agar SRPB JATIM tidak bubrah ditangan yang salah. Tentunya harus melibatkan relawan milenial dalam kepengurusan sebagai upaya regenerasi.

Memang, ada suara yang mengharapkan agar pengurus pasca kongres ke dua nanti masih tetap dihuni oleh muka-muka lama ditambah dengan muka baru agar lebih seru dalam menyusun program yang semakin bermutu. Termasuk rencana baru berikutnya. Namun perlu disadari bahwa garis takdir pengurus ada batasnya.

Sehingga, manakala tiba waktunya, maka wajib ada pergantian pengurus. Untuk itulah, tugas pertama yang harus dikerjakan pasca kongres adalah membagi tugas dan memberi tanggungjawab serta kesempatan yang lebih kepada relawan milenial sebagai upaya menyiapkan mereka melanjutkan estafet kepemimpinan dan kelestarian SRPB JATIM yang dibangun dengan susah payah penuh suka duka. Wallahu a’lam bishowab. [eB/21012020]






  





BERKENALAN DENGAN JITUPASNA


Konsistensi pengurus SRPB JATIM melaksanakan agenda rutin yang digelar setiap bulan, patut diacungi jempol. Ya, acara Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINL) bulan Januari 2020 ini digelar dengan membahas materi tentang jitupasna. Yaitu kegiatan yang konon dilakukan saat pasca bencana yang dilakukan oleh bidang rehabilitasi dan rekonstruksi.

Konon jitupasna itu adalah suatu rangkaian kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak, perkiraan kebutuhan, dan rekomendasi awal terhadap strategi pemulihan yang menjadi dasar penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca bencana.

Gelaran Arisan Ilmu episode ke 30 ini disampaikan oleh Gunarso, staf bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Timur. sebuah upaya mengenalkan program-program yang dilakukan oleh bidang RR kepada relawan. Mungkin ke depan ada lagi materi yang terkait dengan rehab rekon yang perlu disampaikan. Termasuk mendalami jitupasna. Karena, sesungguhnyalah materi yang disampaikan pada hari sabtu pon (18/1) masih tahap pengenalan dan itu perlu diperdalam agar semakin paham.

Dalam prakteknya, tidak semua relawan bisa melakukannya. Namun, paling tidak dengan belajar materi ini mereka bisa membantu menjelaskan kepada masyarakat tentang betapa rumitnya upaya melakukan rehab rekon. Karena banyak foktor yang bermain di dalamnya. Sehingga wajarlah jika terkesan lambat dalam penangannya.

kegiatan yang menempati Gedung Siaga ini diikuti oleh 150 relawan dari berbagai organisasi yang ada di Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Kota Jember, Malang, Blitar, Kediri, dan Kecamatan Bangil, Pasuruan. Ada yang nekat naik motor berboncengan, juga ada yang membawa mobil ambulance. Semua membawa bekal sendiri bukan disubsidi. Tujuannya satu, menambah wawasan dan mempererat paseduluran.

Seperti biasanya, masing-masing peserta membawa ‘jajanan’ ala kadarnya untuk dinikmati bersama sambil bercerita dan berkenalan. Sementara, Bukaji Rukiyati, seorang relawan senior nekat membawa segalon “Wedang Kemaruk”. Yaitu minuman segar kombinasi antara daun kemangi dengan buah jeruk. Segarnya minta ampun, semua kebagian, tidak ada yang manyun karena kehabisan. Juga ada lentho, keripik tempe dan roti bolu. Semuanya halal dikonsumsi.

Ada yang istimewa dalam kegiatan ini, ditengah tengah kesibukan menyiapkan kegiatan “Resik2 Kali Sinir dan Kali Buntung, Waru, Sidoarjo”, Pinky Hidayati dari bidang pencegahan dan  kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, berkenan hadir memberikan pencerahan dan nasi kotak buat makan siang relawan. Harapannya relawan yang ada di Jawa timur terus belajar menambah wawasan serta meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang mulai menampakkan ancamannya diawal tahun ini.

Di penghujung acara Arisan Ilmu dengan materi jitupasna, tidak lupa panitia menyerahkan ‘tanda mata’ kepada nara sumber, yang dilanjutkan foto bersama sebagai kenangan bahwa relawan pernah berkumpul di BPBD Provinsi Jawa Timur, belajar bersama Pak Gun tentang jitupasna. 

Harapannya ke depan, diadakan lagi pendalaman tentang jitupasna dalam bentuk diklat yang diadakan oleh bidang rehabilitasi dan rekonstruksi. Sehingga relawan bisa dilibatkan dalam penyusunan jitupasna, paling tidak sebagai pengumpul data kerusakan dan kerugian akibat bencana. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/minggu wage-19012020]