Kamis, 17 September 2020

RENCANA KONTIJENSI PENANGGULANGAN BENCANA

Konon, setiap jenis bencana diharapkan untuk dibuatkan rencana kontijensi (renkon). Walaupun, belum tentu bencana itu datang, tapi perlu ada rekon. Bahkan ada yang bilang renkon harus dibuat di setiap tahun, karena pos anggarannya ada.

Rencana Kontinjensi penanggulangan bencana merupakan proses identifikasi dan penyusunan rencana ke depan yang didasarkan pada keadaan yang kemungkinan besar akan terjadi, namun juga belum tentu terjadi.

Rencana Kontinjensi yang disusun setiap tahun untuk setiap jenis bencana itu, bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta membangun komitmen bersama antar lembaga (aktor) pelaku penanggulangan bencana.

Termasuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat menghadapi bencana, serta kemampuan untuk meminimalisir dampak bencana, dan kemampuan pulih dengan baik, baik itu bagi entitas sosial atau pun sebuah sistem.

Dalam sebuah diskusi informal antar relawan, dikatakan bahwa penyusunan renkon itu sebagai upaya menemukenali potensi bencana yang ada, mendata SDM dan sarana prasarana setempat yang bisa digerakkan saat terjadi bencana.

Ada pula yang bilang bahwa sebelum menyusun renkon hendaknya mengumpulkan data-data yang diperlukan. Seperti data desa yang berhubungan dengan potensi bencana yang ada (pernah terjadi), melakukan mitigasi dengan melibatkan warga setempat, agar datanya sesuai dengan kearifan lokal yang berlaku.

Bahkan dalam diskusi itu juga muncul istilah kajian risiko bencana, dokumen rencana penanggulangan bencana, rencana aksi komunitas, dan sebagainya. Kiranya masing-masing istilah itu perlu dikupas satu-satu agar relawan yang biasanya hanya berjibaku dalam fase tanggap darurat, tahu tentang banyak hal terkait dengan fase pra bencana.

Dalam diskusi asal ‘njeplak’  itu juga dikatakan bahwa renkon harus jelas siapa berbuat apa. Disamping ketersediaan SDM dan sarpras yg bisa di kerahkan, keterwakilan dan peran dari semua aktor sangat diperlukan, sesuai dengan konsep SKPDB.

Permasalahan yang sering terjadi di lapangan, kadang daerah punya dokumen renkon tapi ketika terjadi bencana, renkon tersebut tidak bisa diaktivasi menjadi renops. Mengapa bisa begitu ?.

Kemungkinan, waktu penyusunannya kurang sesuai, banyak data yang tidak valid, sumberdaya tidak sesuai dengan realita yang dimiliki oleh masing-masing lembaga, atau bisa jadi renkon yang ada tidak  di update sesuai perkembangan situasi. Bahkan ada daerah yang tidak menyusun renkon karena alasan tertentu.

Padahal seharusnya setelah renkon tersusun, harus disepakati (surat pernyataan komitmen) disimulasikan, direvisi, di sahkan, dan di desiminasikan. Ketika rencon tidak bisa di aktifasi menjadi renops maka pasti ada sesuatu yg salah. Misalnya, aktor yang ada tidak di mobilisasi dan di koordinasikan dengan baik.

Sementara yang lain juga bercerita bahwa, Kondisi di lapangan ketika terjadi bencana, tidak sedikit masing-masing aktor berjalan tanpa komando atau kurang terkoordinir. Maka dari itu, Renkon sangat diperlukan dan dilaksanakan sesuai kesepakatan.

Namun ingat, karena penyusunan renkon itu merupakan salah satu programnya BPBD, maka pemilihan peserta renkon itu haknya BPBD. Siapa, dari unsur apa dan berapa orang yang akan diajak menyusun renkon itu terserah BPBD. Namun, tidak ada salahnya jika relawan pun mengetahui apa itu rencana kontijensi penanggulangan bencana. wallahu a’lam bishowab. Salam kemanusiaan. bersatu bersinergi untuk peduli dan terus menginspirasi. [eBas/JumatPahing-18092020]

 

 

Minggu, 13 September 2020

UJI PETIK JUKLAK PERENCANAAN LOGPAL BNPB

“Website milik BPBD Kabupaten/Kota sering kali kosong tidak ada berita terkait dengan program penanggulangan bencana di daerahnya. Datanya pun banyak yang lama belum diperbaharui. Untuk itu perlu pembaharuan data secara berkala sesuai perkembangan situasi dan kondisi serta pelaksanaan program,” Kata Elok, staf BNPB, dalam sesi tanya jawab uji petik Juklak Perencanaan Logistik dan Peralatan (logpal) BNPB.

Masih kata Elok, data yang ada di BPBD Kabupaten/Kota dan BPBD Provinsi masih sering berbeda dengan yang dimiliki BNPB. Mungkin kedepan hal yang seperti ini perlu ada sinkronisasi data untuk mempermudah penyusunan kebijakan. Termasuk data logpal yang harus siap digunakan setiap waktu.

Apa yang dikatakan Elok merupakan kondisi nyata yang tampaknya masih sulit untuk diperbaiki karena banyak persoalan yang berkelindang di dalam lembaga yang menangani masalah bencana. Apalagi masalah politik lokal sering kali ikut bermain.

Kegiatan uji petik ini bertempat di Hotel Grand Mercure, Surabaya, jumat (11/09/2020). Pesertanya terdiri dari beberapa BPBD Kabupaten/Kota yang ditunjuk, dunia usaha, media massa, dan relawan yang diwakili oleh salah satu pengurus SRPB Jawa Timur.

Dalam naskah yang diuji cobakan, dikatakan bahwa logpal sebagai bagian dari proses penanggulangan bencana yang dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD, memiliki peran penting dalam meminimalisir dampak atau korba bencana. Ke depan, perencanaan logpal harus dilakukan dengan prinsip efektif, efisien, partisipatif, transparan dan akuntabel.

Disebutkan pula bahwa perencanaan dan pengelolaan logpal harus memenuhi tiga hal yang mendasar. Yaitu melibatkan sinergitas pentahelix, didukung oleh platform berbasis teknologi informasi, serta mobilisasi dan distribusi logpal yang responsif saat terjadi bencana.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, keterlibatan media, yang diharapkan mampu memberikan informasi dan edukasi positif serta menjadi bagian dari kekuatan yang konstruktif. Termasuk dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pengurangan risiko bencana.

Artinya, media massa diharapkan dapat menyampaikan pesan secara transparan, cepat dan objektif atas bencana yang terjadi, serta apa yang harus dilakukan masyarakat untuk membantu mempercepat upaya penanggulangan bencana.

Sesi tanya jawab yang dipandu oleh Dosen dari UNITOMO, Surabaya ini sangat dinamis. Masing-masing memberikan masukan terhadap naskah juklak perencanaan logpal untuk penyempurnaan, dikaitkan dengan kondisi dan potensi ancaman bencana yang ada dan berbeda dimasing- masih daerah.

Dalam sesi itu juga disinggung tentang peraturan kepala BNPB nomor 26 tahun 2014, tentang pedoman pemanfaatan logistik. Dikatakan bahwa Logistik yang berada di BPBD Propinsi dan kabupaten/kota pada prinsipnya dipergunakan hanya untuk keadaan darurat bencana, namun apabila dipandang perlu dapat dimanfaatkan pada masa pra bencana sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan.

Kemudian dikatakan, Pemanfaatan logistik pada masa pra bencana untuk kebutuhan lain yang menunjang kegiatan kebencanaan diatur tersendiri atau atas persetujuan BNPB. Diantaranya, logistik kategori pangan dapat dimanfaatkan apabila mendekati masa kadaluarsa (2 bulan sebelumnya).

Namun nyatanya, masih banyak BPBD yang belum berani memanfaatkan logistik untuk kegiatan peningkatan kapasitas relawan dalam bidang kebencanaan. Sehingga banyak yang membiarkan logistik kategori pangan kedaluwarsa dan akhirnya dimusnahkan dengan disertai berita acara.

Terkait dengan pelibatan elemen pentahelix, diharapkan BPBD membentuk pusat informasi, pemantauan dan evaluasi situasi di lokasi bencana dengan melibatkan unsur komunitas relawan (masyarakat terlatih). Begitu juga dalam hal memberikan pendampingan (dan sosialisasi PRB) kepada daerah yang memerlukan.

Dengan kata lain, BPBD diharapkan mengkoordinasikan semua komunitas/lembaga yang terkait dalam penanggulangan bencana. Termasuk di dalam pengelolaan logistik dan peralatan penanggulangan bencana yang sesuai dengan potensi bencana yang ada.

Jangan sampai potensi bencana yang ada itu misalnya erupsi gunung berapi, namun yang diberikan adalah logpal yang berkaitan dengan bencana banjir. Atau semua BPBD diberi bantuan logpal yang sama secara merata, sehingga banyak logpal yang mubadzir. Wallahu a’lam. [eBas/ MingguPahing-13092020]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KANG PALIH PEGANG SRPB MAGETAN

Akhirnya, di masa pandemi covid-19 ini, dengan suara aklamasi, Kang Palih diserahi amanah untuk menjadi ketua SRPB Kabupaten Magetan. Tidak “gemen-gemen”, Kang Palih dilantik langsung oleh Bupati Magetan, Suprawoto. Disaksikan Kepala Dinas Kesehatan Magetan dan Kalaksa BPBD Magetan, Ari Budi Santoso.

Kegiatan yang digelar di Sekretariat SRPB, Dukuh Kambingan, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, sabtu (13/9/2020), juga disaksikan oleh Staf Ahli Gubernur Jawa Timur bidang Kebencanaan, Suban Wahyudiono, dan Kabid PK BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Subroto. Sebuah peristiwa langka, kegiatan komunitas dihadiri beberapa pejabat penting.

Kiranya Kang Palih sangat senang dan bangga, prosesi pelantikan kabinetnya sukses, aman terkendali. Apalagi Pengurus SRPB Jawa Timur juga turut ‘mangayu bagyo’ dengan segala keceriaan dan harapan agar Kang Palih segera menampakkan keberadaannya. Gak Pake Lama, langsung wat wet sat set, cancut tali wondo, menyingsingkan lengan baju menuju harapan baru.

Ya, sebuah tanggung jawab yang harus segera digulirkan dalam berbagai program, agar Pak Bupati dan pejabat yang menyempatkan hadir di Dukuh Kambingan, percaya bahwa kehadirannya tidak sia-sia dan yakin bahwa Kang Palih mewarisi semangatnya Ki Mageti dalam “mrantasi tugas” yang diemban. Apalagi di belakang Kang Palih juga bercokol orang-orang hebat dengan segala kapasitasnya.

Tentu, Kang Palih dipilih itu karena pengalamannya yang banyak di dunia kerelawanan. Ya, senior satu ini memang telah lama malang melintang dibidang tugas kemanusiaan. Segala suka duka berkecimpung dalam organisasi telah menempa Kang Palih. Inilah modal sosial yang telah dimilikinya untuk menjadi trigger SRPB Magetan dengan segala program inovasinya yang kreatif.

Lihat saja “Bathuk’e tambah ombo lan kinclong” pertanda Kang Palih itu seorang pemikir dan pekerja keras, sampai badannya gak sempat gemuk. Ya, Kang Palih memang lelaki yang istikomah dengan bentuk badang yang kurus tapi atletis.

Banyak harapan dari undangan yang dilontarkan malam itu. Intinya, semua berharap, semoga SRPB Magetan dibawah rezimnya Kang Palih dapat bermanfaat dalam penanggulangan bencana dan upaya pengurangan risiko bencana, melalui sosialisasi dan edukasi.

Jangan lupa, keberadaan SRPB sebagai wadah berkumpulnya berbagai organisasi dan komunitas itu, hendaknya bisa menjadi katalisator antar elemen pentahelix dalam kegiatan kebencanaan dan Kemanusiaan di Magetan, serta bersinergi dengan BPBD Magetan dan Dinas terkait. Sehingga jargon ‘masalah bencana adalah masalah bersama’ menjadi nyata adanya.

Pastilah Kang Palih dan SRPB Magetan akan menjadi gunjingan banyak pihak karena dikukuhkan langsung oleh Pak Bupati. Tentu mereka akan mencari tahu dan menunggu program nyata yang bermanfaat bagi sesama warga Magetan. Untuk itu Kang Palih harus tetap amanah, bukan “aman ah” kayak tetangga sebelah. Dimana, setelah berhasil jadi ketua SRPB langsung “Mblenjani Janji”.

Tidak ada salahnya jika Kang Palih dan kabinetnya segera mengatur langkah melakukan muhibah ke berbagai dinas serta komunitas terkait untuk mengenalkan diri sekaligus membangun sinergi. Siapa tahu disana ada banyak program yang bisa dikerjakan secara keroyokan dan hasilnya bisa dirasakan secara transparan.

Yang bagaimana itu ?. Mari ditunggu aksi nyata Kang Palih dengan Kabinetnya yang (mungkin) sedang menyusun program di Dukuh Kambingan. Tentulah sambil nyruput kopi dan ngemil lempeng Magetan yang di-dulit-kan sambel pecel. Salam Tangguh, tetap bersatu bersinergi untuk peduli. [eBas/SeninPon-14092020]

Kamis, 10 September 2020

WEDANG KOPI BANYU UDAN DI BALAI DESA PRODO PASURUAN

Judul diatas adalah benar adanya. Membuat wedang kopi, dimana airnya adalah air hujan yang ditampung kemudian diolah dengan metode elektrolisa alias di setrum sehingga dapat langsung diminum.

Konon, minum air hujan yang sudah dielektrolisasi sangat baik bagi tubih, bahkan ada yang percaya sebagai obat untuk kesehatan. Termasuk dimasak sampai mendidih untuk membuat wedang kopi yang siap disruput oleh para Juri desa tangguh bencana (destana) dari tingkat Provinsi.

Ya, hari itu, kamis (10/9) di Balai desa Prodo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan diadakan penilaian Destana tingkat jawa Timur. Tim Jurinya beragam. Disamping dari BPBD Provinsi Jawa timur, juga dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Bapemas, IABI, dan SRPB Jatim.

Dalam penilaian kali ini, Desa Prodo masuk kategori lomba Destana Utama, dengan indikator: a). Adanya kebijakan PRB yang telah dilegalkan dalam bentuk perdes atau perangkat hukum setingkat di kelurahan. b). Adanya dokumen perencanaan PB yang telah dipadukan ke dalam (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan dirinci ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa), c). Adanya Forum PRB yang beranggotakan wakil-wakil masyarakat, termasuk kelompok perempuan dan kelompok rentan, dan wakil pemerintah desa/kelurahan, yang berfungsi dengan aktif.

Kemudian, d). Adanya Tim Relawan PB Desa/Kelurahan yang secara rutin terlibat aktif dalam kegiatan peningkatan kapasitas, pengetahuan dan pendidikan kebencanaan bagi para anggotanya dan masyarakat pada umumnya.

Selanjutnya, e). Adanya upaya-upaya sistematis untuk mengadakan pengkajian risiko, manajemen risiko dan pengurangan kerentanan, termasuk kegiatan-kegiatan ekonomi produktif alternatif untuk mengurangi kerentanan. f). Adanya upaya-upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan serta tanggap bencana.

Forum PRB Desa Prodo memang baru dibentuk dan disahkan oleh Kepala Desa Setempat. Namun kegiatan yang sudah dilakukan terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana, sudah banyak dilakukan dengan melibatkan seluruh warga secara gotong royong.

Banjir merupakan bencana yang rutin datang setiap musim penghujan. Untuk itu sosialisasi masalah bagaimana bersikap saat banjir datang menggenangi daerahnya setinggi dada orang dewasa, serta bagaimana upaya mengurangi bahaya banjir dan menangani pasca bencana, kiranya sangat perlu digalakkan.

Upaya itu diantaranya adalah kerja bakti membersihkan lingkungannya, memasang rambu-rambu evakuasi, menyiapkan tempat pengungsian, mengadakan lumbung pangan dan jimpitan. Serta memanfaatkan dana desa untuk kegiatan kebencanaan seperti pesan dari permendes nomor 16 tahun 2018, tentang Prioritas penggunaan Dana Desa tahun 2019.

Dalam pasal 12, poin d, nomor 3, dikatakan, …..  untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat Desa yang meliputi, pengelolaan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam da konflik sosial, penanganan bencana alam dan konflik sosial, serta penanganan kejadian luar biasa lainnya.

Dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi, mereka juga memanfaatkan lahan di pinggiran jalan desa dengan ditanami aneka sayur serta mengadakan jimpitan beras, bekerja sama dengan BUMDES.

Banyak sekali informasi menarik yang didapat oleh tim juri saat berdialog dengan berbagai elemen masyarakat terkait penanganan bencana secara mandiri. Tim juri pun sempat melihat kondisi lapangan yang menjadi langganan banjir. Juga melihat kelengkapan administrasi dan sarana prasarana pendukung lainnya yang menunjang upaya penanggulangan bencana.

Sambil nyruput wedang kopi banyu udan, saran yang layak diperhatikan oleh anggota Forum PRB Desa Prodo adalah, perlunya mengagendakan kegiatan kerja bakti serta membangun jejaring kemitraan dengan berbagai komunitas.

Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas anggota Forum yang baru lahir ini, kiranya perlu ada pembinaan dan pendampingan dari berbagai pihak, dalam bentuk lokalatih, saraserahan dan diskusi kebencanaan. tentunya, semua ini akan lebih gayeng jika ditemani wedang kopi banyu udan. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Kamis malem JumatKliwon-10092020]*

 

 

 




Selasa, 08 September 2020

PENILAIAN DESTANA YANG TANGGUH BENCANA

Kalau tidak salah dengar, BNPB membuat program desa tangguh bencana (destana) itu dalam rangka mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang potensi bencana di daerahnya masing-masing. Karena, setiap terjadi bencana, masyarakatlah yang pertama merasakan, menjadi korban dan masyarakat pula yang pertama bergerak menolong korban bencana.

Untuk melihat program tersebut berjalan, diadakanlah penilaian destana. Tim jurinya terdiri dari berbagai elemen, diantaranya relawan. Tentu sebelumnya, mereka diberi bekal yang memadai, sehingga dalam melaksanakan tugas sebagai juri tidak asal menilai demi daya serap anggaran. Dengan demikian akan terpilih destana yang benar-benar destana.

Ada pula yang bilang bahwa setiap penilaian destana, bertujuan untuk mengetahui posisi desa tersebut tangguh terhadap bencana atau tidak saat ini. Dari informasi yang didapat akan dijadikan bahan menyelenggarakan lokalatih untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi potensi bencana yang ada di desanya.

Idealnya, dalam penjurian berpedoman pada buku Standar Nasional Indonesia (SNI) 8357 : 2017, tentang Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana, dikatakan bahwa dengan penerapan SNI Desa dan kelurahan tangguh bencana, diharapkan upaya-upaya pengelolaan risiko bencana tersebut dapat secara nyata berkontribusi dalam penurunan risiko bencana termasuk dampak perubahan iklim melalui pemberdayaan masyarakat desa dan kelurahan dengan pelibatan langsung masyarakat termasuk didalamnya kelompok rentan dan kelompok marginal lainnya.

Perangkat penilaian Desa dan Kelurahan tangguh bencana ini menilai 5 komponen. Yaitu, komponen 1: kualitas dan akses layanan dasar, serta komponen 2: dasar sistem penanggulangan bencana.

Kedua komponen tersebut merupakan indikator dasar, seperti termaktub dalam SNI, untuk memastikan usaha-usaha penguatan ketangguhan dapat berjalan dengan baik. Berikutnya, komponen 3: pengelolaan risiko bencana; komponen 4: kesiapsiagaan darurat, dan komponen 5: kesiapsiagaan pemulihan. Ketiga komponen ini merupakan representasi proses untuk mewujudkan indikator hasil dalam SNI.

Hasil dari penilaian, akan menentukan Desa/Kelurahan yang benar-benar layak menyandang gelar Destana Utama, Destana Madya, atau Destana Pratama.

Namun rambu-rambu penilaian yang ada di dalam SNI bisa dibijaksanai sesuai dengan situasi dan kondisi. Termasuk penilaian tentang penanganan pandemi covid-19 serta sosialisasi protokol kesehatan, kiranya perlu juga diadakan. Sehingga personil destana juga tangguh dalam memutus rantai sebaran covid-19.

Yang jelas, kegiatan penilaian destana kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh aktivitas kehidupan dimasa pandemi haruslah mentaati protokol kesehatan. seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Semua ini perlu dijalankan agar kegiatan penilaian destana tidak meninggalkan masalah baru, yaitu timbulnya klaster destana. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/RabuPon-09092020]

 

 

Senin, 31 Agustus 2020

RELAWAN PEDULI TEMPAT IBADAH

Assalamualaikum...semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT. Jika berkenan, mohon kehadirannya rekan, senior, kakak utk berpartispasi pada Sabtu, /29/08/2020, Jam 07.30 sd selesai. Acara: Giat sosial peduli bersih-bersih Masjid Ahmad, di Klampis Ngasem III. Dimohon peserta membawa sendiri snack n botol air minum. Demikian pemberitahuan dari kami, sebelumnya kami sampaikan Terima kasih.

Begitulah bunyi pengumuman yang diposting di grup whatsApp relawan peserta rakor SRPB Jawa Timur 2020, di Obis Camp, Trawas, Mojokerto. Sebuah kegiatan peduli kebersihan rumah ibadah yang sangat bermanfaat untuk menggalang silaturahmi antar para pegiat lingkungan alam, menumbuhkan semangat gotong royong, dan tentunya turut serta menjaga kebersihan rumah ibadah, sebagai perwujudan “Kebersihan sebagian dari Iman”.

Begitulah, pagi hari, sabtu pahing, relawan dari berbagai komunitas berdatangan ke Masjid Ahmad, yang cukup besar di tengah perkampungan Klampis. Sambil membawa logistik sendiri-sendiri sebagai bentuk kemandirian. Serta tetap mengindahkan protokol kesehatan.

Setelah berbasa basi, mereka langsung mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Nyapu lantai sekaligus ngepel, nyemprot disinfektan di seluruh lingkungan Masjid, membersihkan kamar mandi, membersihkan debu yang menempel di kipas angin, kaca dan dinding. Begitu juga tower masjid, tidak luput dari pembersihan dengan menggunakan peralatan lengkap, ‘full body harness’ untuk bekerja di ketinggian.

Tidak lupa, ditengah kesibukan bersih-bersih Masjid, masih sempat memainkan cameranya untuk mengabadikan kegiatan bersama yang indah untuk kemudian di share ke berbagai grup whatsApp. Begitu juga dengan bagian dokumentasi, hilir mudik membidikkan lensanya ke berbagai sudut Masjid yang sedang dibersihkan.

Ternyata, kerja keroyokan membersihkan Masjid tanpa ada yang mengomando itu cukup efektif. Buktinya menjelang waktunya adzan duhur, semuanya beres. Tinggal mengemasi peralatan untuk kemudian menjalankan solat dzuhur berjamaah. Sayangnya, pewangi ruangan kurang terasa segarnya.

Seperti biasanya, untuk mengakhiri kegiatan selalu ada acara ngobrol santai sambil evaluasi. Ditemani nasi bungkus dan segelas kopi, pertukaran informasi mengalir silih berganti. Semua punya hak mendengarkan dan menyampaikan pendapat, informasi dan pengalamannya. Ya, apa saja boleh disampaikan, termasuk rencana kegiatan bersih-bersih tempat ibadah selanjutnya.

 Konon kegiatan yang baru pertama dilakukan di masa pandemi covid-19 ini, akan segera ditindak lanjuti dengan melibatkan komunitas yang lebih banyak lagi. Begitulah harapan mulia dari penggagasnya. Semoga komunitas lain berkenan mendukung sehingga tampak keguyubannya dalam melakukan kerja-kerja sosial secara mandiri. Semoga kegiatan ini menjadi ladang pahala bagi yang percaya. [eBas/SeninWage-31082020]

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 24 Agustus 2020

BUDI CAHYONO BICARA TENTANG EKSISTENSI ORGANISASI RELAWAN

       "Anggota saya sementara ini yang tercatat ada 74 orang, namun yang aktif sekitar 21 orang. Lainnya sibuk dengan pekerjaan, namun mereka tetap berkontribusi terhadap organisasi. Aktif mengikuti pertemuan serta membantu doa, dan kadang juga dana agar yang aktif selalu sehat dan bersemangat,” Kata Budi Cahyono, Ketua forum relawan penanggulangan bencana (FRPB) Kabupaten Pamekasan.

Pria berkacamata ini tergolong ahli hisap. Perokok kelas berat, tapi tetap sehat, bahkan dan terkesan angker bagi yang belum mengenalnya. Padahal, sesungguhnya Pak Bud, begitu panggilan akrabnya, sangat humoris dan enak diajak ngobrol. Apalagi ngobrol tentang kerja-kerja kemanusiaan dibidang kebencanaan, sambil rokok’an.

Ditemui di acara pengimbasan informasi tentang keterlibatan relawan dalam program Masjid Tangguh, dan Pasar Tangguh yang diinisiasi oleh BNPB, kepada relawan di wilayah Kabupaten Mojokerto dan peserta rapat koordinasi (rakor) SRPB Jawa Timur. Pak Bud mampu menghipnotis peserta dengan gayanya, sehingga materi yang disampaikan mudah dipahami.

Kegiatan pengimbasan itu merupakan rangkaian dari Rakor yang diselenggarakan SRPB Jawa Timur sebagai salah satu mandat kongres yang difasilitasi oleh BPBD Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini mengambil tempat di Obis Camp, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pada hari jum’at sampai dengan minggu (21 23 agustus 2020).

Saat ngobrol usai memberikan materi, beliau bilang bahwa masukan salah satu peserta dari relawan Kota Pasuruan sangat menarik untuk dikaji dan di-ujiterap-kan di masing-masing organisasi. Masukannya itu berupa ajakan agar organisasi relawan berani berinovasi dan kreatif mencari terobosan financial untuk mendukung kegiatan organisasi.

“Usulan ini menarik. Saya kira perlu dijadikan materi arisan ilmu atau dibahas saat jagongan sambil ngopi. Duh nyaman ongguh tak iye,” Katanya sambil memainkan asap rokoknya.

Ya, peserta dari Kota Pasuruan itu mengatakan bahwa sudah waktunya relawan berinovasi mengemas kegiatan yang bisa mendatangkan keuntungan untuk mendukung kegiatan.

Relawan juga harus kreatif memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai komunitas dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada hubungannya dengan penanganan kebencanaan. Ini penting, agar keberadaan dan kegiatannya tidak dipandang sebelah mata.

“Sebenarnya saya sudah menjalankan ajakan tersebut. Contohnya, kegiatan selama pandemi ini mendapat dukungan dari anggota yang tidak ikut turun ke lapangan. Baik berupa doa dan dana. Mereka juga aktif menggalang bantuan dari ‘Hamba Allah’, sehingga memudahkan gerakan teman-teman di lapangan,” Ujarnya lagi.

Konon, masih kata Pak Bud, sejak pandemi masuk ke Madura, mereka turut sibuk membantu pemerintah menanganinya dengan melakukan penyemprotan disinfektan ke berbagai fasilitas umum, fasilitas sosial, dan rumah warga. Bakti sosial pembagian masker dan hand sanitizer, pembagian paket sembako bagi warga yang ekonomi rumah tangganya terpapar pandemi. Mereka juga terlibat dalam penanganan korban covid-19.

Kegiatan yang dilakukan Pak Bud beserta pasukannya itu tanpa pamrih dan murni swadaya. Kesungguhan mereka pun akhirnya juga diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk Bupati Pamekasan dan pihak Angkatan laut, dalam bentuk dukungan.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menggandeng beberapa media online untuk meliput semua kegiatan FRPB sehingga diketahui oleh khalayak ramai. Termasuk keterlibatannya dalam rakor SRPB Jawa Timur di masa pandemi ini.

Terkait dengan upaya regenerasi agar eksistensi organisasi tetap lestari, menurut pria berkumis ini harus dilakukan secara bertahap dengan memberi kesempatan kepada anggota yang muda untuk tampil melaksanakan tugas dan tanggungjawab organisasi. Sukur-sukur bisa bekerjasa sama dengan BPBD mengadakan diklat kebencanaan bagi relawan.

Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa regenerasi dapat dikatakan sebagai sutu perpindahan tongkat estafet tanggung jawab keorganisasian dari generasi sebelumnya ke generasi yang baru. Regenerasi organisasi dilakukan agar adanya penerus perjuangan dari perwujudan tujuan organisasi yang harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan di tiap generasinya.

Adanya regenerasi dalam sebuah organisasi menjadi sebuah rantai penghubung yang akan terus terkait dan membuat suatu organisasi mempertahankan keberadaannya. Dengan kata lain, regenerasi tidak boleh terlambat agar eksistensi organisasi tetap diakui oleh khalayak ramai.

          “Menurut saya secara berkala harus diadakan pertemuan anggota dalam bentuk sarasehan, jagongan bareng dalam rangka pengimbasan informasi dan pengalaman dari yang tua kepada yang muda sebagai upaya peningkaan kapasitas secara informal,” Katanya.

Sungguh, ngobrol dengan Pak Bud ini menyenangkan. Begitu juga dengan pasukannya, juga ramah dan enak diajak bicara. Apalagi salah satu anggotanya ada yang jagoan bergoyang atarktif nonstop selama gelaran elekton di malam keakraban. Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Terimakasih Pak Bud, partisipasi panjenengan sangat menginspirasi. Salam Tangguh, Bersatu Bersinergi Untuk Peduli. [eBas/nDemingParakIsuk/SelasaPon-25082020]